Pelayanan Klinik Estet Melenyu 2 Dinilai Tak Berempati, Anak Sakit Dipersulit Karena Administrasi

Beranda40 Dilihat

Pelayanan Klinik Estet Melenyu 2 Dinilai Tak Berempati, Anak Sakit Dipersulit Karena Administrasi

Muara Wahau – Wajah pelayanan kesehatan perusahaan kembali dipertanyakan. Seorang karyawan Melenyu 2 Afdeling LA, Samsul, mengaku kecewa dan geram setelah anaknya yang sedang mengalami panas dingin tidak langsung mendapatkan penanganan di Klinik Estet Melenyu 2, Senin (23/2/2026) sekitar pukul 16.25 WIB.

Alih-alih mendapat pertolongan cepat untuk anak yang sakit, Samsul justru dihadapkan pada serangkaian pertanyaan administrasi. Petugas medis bernama Ibu Ika menanyakan surat keterangan dari kantor afdeling serta nomor NPK. Padahal saat itu kantor sudah tidak beroperasi dan kondisi sakit anak terjadi secara mendadak sepulang sekolah.

Samsul menjelaskan bahwa tidak mungkin dirinya bisa memprediksi anaknya akan sakit sejak pagi untuk lebih dulu mengurus surat dari mandor atau asisten afdeling. Namun penjelasan tersebut tidak mengubah keadaan. Tanpa surat dan tanpa nomor NPK yang dihafal, pelayanan disebut sulit diproses.

Situasi ini memunculkan pertanyaan serius: apakah prosedur administrasi lebih diutamakan daripada kondisi medis pasien, terlebih pasien anak?

Merasa tidak mendapat perlakuan yang humanis dan penuh empati, Samsul memilih membawa anaknya pulang. Ia mengaku kecewa terhadap sikap dan tutur kata yang dinilainya tidak mencerminkan pelayanan kesehatan yang mengedepankan sisi kemanusiaan.

Setibanya di perumahan Afdeling LA, Samsul langsung membeli obat Mixagrip di warung kawasan PKS 6. Jika kondisi anaknya tidak membaik, ia berencana besok pagi mau izin tidak masuk bekerja karena mau membawa anaknya berobat ke dokter praktik di SP 4, dengan jarak tempuh sekitar dua jam dan biaya pribadi.

Kepada Tispran Kelana dari mabesnews.com, Samsul menyampaikan kekecewaannya secara terbuka.
“Lebih baik saya berobat di luar perusahaan. Walaupun bayar pakai uang sendiri, yang penting pelayanannya ikhlas dan tulus. Daripada banyak pertanyaan yang justru memancing emosi,” tegasnya.

Peristiwa ini menjadi sorotan tajam terhadap standar pelayanan kesehatan di lingkungan perusahaan. Dalam kondisi pasien anak yang sakit, publik menilai seharusnya pertolongan medis menjadi prioritas utama sebelum administrasi.
Jika benar pelayanan terhambat hanya karena persoalan surat dan nomor induk karyawan, maka manajemen perlu melakukan evaluasi menyeluruh. Klinik perusahaan bukan sekadar ruang administrasi, melainkan garda terdepan pelayanan kesehatan bagi karyawan dan keluarganya.

Pertanyaannya kini, apakah empati masih menjadi bagian dari pelayanan, atau justru kalah oleh prosedur birokrasi?

(Tispran Kelana/Tim)

Komentar