Matrikulasi Mahasiswa Baru Pascasarjana UTAMA, Magister Kesehatan Masyarakat Perkuat Fondasi Akademik

Beranda139 Dilihat

Matrikulasi Mahasiswa Baru Pascasarjana UTAMA, Magister Kesehatan Masyarakat Perkuat Fondasi Akademik

MAKASSAR — Program Pascasarjana Universitas Tamalatea Makassar (UTAMA) menggelar kegiatan Matrikulasi Mahasiswa Baru Program Studi Magister (S2) Kesehatan Masyarakat sebagai langkah awal untuk memperkuat kesiapan akademik mahasiswa sebelum memasuki proses perkuliahan pada jenjang magister.

Kegiatan matrikulasi tersebut dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting selama dua hari, yakni pada 3–4 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam memberikan pemahaman awal kepada mahasiswa baru mengenai lingkungan akademik, budaya ilmiah, sistem pembelajaran, serta tuntutan pendidikan pada jenjang pascasarjana.

Matrikulasi juga menjadi ruang untuk menyamakan persepsi antara mahasiswa baru dengan lingkungan akademik Pascasarjana UTAMA. Hal tersebut dinilai penting mengingat mahasiswa yang mengikuti Program Magister Kesehatan Masyarakat berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, profesi, maupun daerah.

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Rektor Universitas Tamalatea Makassar, Dr. H. Muh. Ilyas Nur, SKM., M.Adm.Kes. Hadir dalam kegiatan tersebut Direktur Pascasarjana UTAMA, Dr. Rahmawati Aziz, SKM., M.Si., jajaran pimpinan Universitas Tamalatea Makassar, pengelola Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, serta sivitas akademika Pascasarjana UTAMA.

Dalam sambutannya, Rektor UTAMA Dr. H. Muh. Ilyas Nur menekankan bahwa memasuki pendidikan jenjang magister membutuhkan kesiapan yang lebih dari sekadar persyaratan administratif.

Menurutnya, mahasiswa pascasarjana harus memiliki kesiapan intelektual, mental, dan akademik karena proses pembelajaran pada jenjang tersebut menuntut mahasiswa untuk lebih mandiri dalam mencari, memahami, menganalisis, serta mengembangkan pengetahuan.

“Pendidikan magister bukan hanya tentang bagaimana mahasiswa memperoleh gelar, tetapi bagaimana mahasiswa mampu memperdalam keilmuan, membangun pola pikir kritis, serta menghasilkan gagasan dan penelitian yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Rektor UTAMA.

Ia menjelaskan, mahasiswa pada jenjang pascasarjana akan menghadapi proses pembelajaran yang berbeda dengan pendidikan sebelumnya. Mahasiswa dituntut tidak hanya menerima materi yang disampaikan oleh dosen, tetapi juga aktif membaca berbagai referensi, melakukan kajian, berdiskusi, menyampaikan argumentasi berdasarkan data, serta mampu mempertanggungjawabkan gagasan secara ilmiah.

Karena itu, menurutnya, matrikulasi menjadi momentum strategis untuk memberikan gambaran awal mengenai budaya akademik yang akan dihadapi mahasiswa selama menempuh pendidikan di Pascasarjana UTAMA.

“Matrikulasi menjadi momentum untuk menyamakan persepsi antara mahasiswa baru dengan lingkungan akademik Pascasarjana UTAMA. Kami berharap mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin,” lanjutnya.

Rektor juga mendorong mahasiswa baru untuk tidak hanya berorientasi pada penyelesaian studi, tetapi menjadikan masa pendidikan magister sebagai kesempatan untuk membangun kompetensi, memperluas jaringan, meningkatkan wawasan, serta mengembangkan kemampuan profesional.

Menurutnya, lingkungan perguruan tinggi harus dimanfaatkan sebagai ruang bertemunya berbagai pengalaman, pemikiran, dan keilmuan yang dapat melahirkan gagasan-gagasan baru.

Mahasiswa juga diharapkan mampu menghubungkan ilmu yang diperoleh selama mengikuti pendidikan dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Dengan demikian, keberadaan lulusan Pascasarjana UTAMA nantinya diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat dan pembangunan daerah.

Sementara itu, Direktur Pascasarjana UTAMA, Dr. Rahmawati Aziz, SKM., M.Si., menjelaskan bahwa kegiatan matrikulasi memiliki peran strategis dalam mempersiapkan mahasiswa baru menghadapi dinamika pembelajaran pada jenjang magister.

Menurutnya, mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat memiliki latar belakang pendidikan yang cukup beragam. Tidak seluruh mahasiswa berasal dari disiplin ilmu kesehatan masyarakat. Sebagian memiliki latar belakang pendidikan di bidang pemerintahan, pendidikan, sosial, ekonomi, hukum, maupun bidang keilmuan lainnya.

Keragaman tersebut, kata Dr. Rahmawati, bukan menjadi hambatan, melainkan dapat menjadi kekuatan dalam membangun suasana akademik yang lebih dinamis.

“Perbedaan latar belakang mahasiswa justru dapat menjadi kekuatan untuk membangun diskusi akademik yang lebih luas. Setiap mahasiswa membawa pengalaman dan perspektif yang berbeda, sehingga dapat saling melengkapi dalam proses pembelajaran,” jelasnya.

Ia mengatakan, Program Magister Kesehatan Masyarakat membutuhkan mahasiswa yang mampu melihat persoalan kesehatan secara lebih luas. Persoalan kesehatan masyarakat tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan erat dengan berbagai aspek, mulai dari sosial, ekonomi, pendidikan, lingkungan, kebijakan publik, hingga tata kelola pemerintahan.

Karena itu, keragaman latar belakang mahasiswa diharapkan dapat memperkaya perspektif dalam membahas berbagai persoalan kesehatan masyarakat yang terjadi di tengah masyarakat.

Matrikulasi kemudian dirancang untuk memberikan fondasi akademik yang relatif setara kepada seluruh mahasiswa agar memiliki kesiapan yang cukup dalam mengikuti proses perkuliahan, penelitian, maupun berbagai kegiatan akademik lainnya.

Dr. Rahmawati juga menekankan pentingnya membangun budaya akademik melalui tradisi membaca, menulis, berdiskusi, melakukan penelitian, mengolah data, serta mengembangkan gagasan secara ilmiah.

Menurutnya, mahasiswa pascasarjana tidak cukup hanya menjadi penerima informasi, tetapi harus mampu mengambil peran sebagai bagian dari proses produksi dan pengembangan pengetahuan.

“Pascasarjana harus menjadi ruang bertemunya pengalaman, keilmuan, dan gagasan. Perbedaan latar belakang mahasiswa justru harus menjadi kekuatan untuk membangun diskusi dan kolaborasi akademik,” pesannya.

Ia berharap mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat dapat menjadikan proses pendidikan di UTAMA sebagai kesempatan untuk meningkatkan kapasitas diri sekaligus memberikan kontribusi terhadap penyelesaian berbagai persoalan kesehatan masyarakat.

Menurutnya, ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan akan memiliki nilai yang lebih besar apabila mampu diterapkan untuk menjawab persoalan nyata di lapangan.

“Mahasiswa diharapkan tidak berhenti pada penguasaan teori, tetapi mampu menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat dan pemerintah,” tambahnya.

Dengan pendekatan tersebut, pendidikan Pascasarjana UTAMA diharapkan dapat melahirkan lulusan yang memiliki kemampuan akademik, kompetensi profesional, serta kepedulian terhadap persoalan masyarakat.

Khususnya di bidang kesehatan masyarakat, lulusan diharapkan mampu berkontribusi dalam perumusan kebijakan, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, pengembangan program kesehatan, penelitian, serta penguatan tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik.

Penyelenggaraan matrikulasi ini sekaligus menegaskan komitmen Pascasarjana Universitas Tamalatea Makassar untuk terus menghadirkan proses pendidikan yang berkualitas, adaptif, dan relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta kebutuhan masyarakat.

Kegiatan tersebut juga menjadi titik awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal lebih dekat lingkungan akademik Pascasarjana UTAMA sekaligus mempersiapkan diri menghadapi perjalanan pendidikan yang membutuhkan konsistensi, kedisiplinan, kemampuan berpikir kritis, dan semangat belajar yang berkelanjutan.

Bagi mahasiswa Program Magister Kesehatan Masyarakat, matrikulasi bukan sekadar kegiatan pembuka sebelum perkuliahan dimulai. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi pijakan awal untuk membangun fondasi akademik, memperkuat budaya ilmiah, serta mempersiapkan diri menjadi insan profesional yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, daerah, dan pembangunan nasional.

Komentar